GEREBEK RAMADHAN

GenRe Berbagi Takjil Gratis Dilakukan Oleh Duta GenRe Jember Berkolaborasi Dengan Mister Global Jawa Timur

GENRE BERKUNJUNG

Kunjungan Insan GenRe Jember Ke Ruang Redaksi Jawa Pos

SAFARI PIK-R

Pembinaan Pengelolaan GenRe

GENRE ON AIR

GenRe On Air 89.5 FM di RRI Pro 2 Jember

AKSI GENRE

Malam Refleksi dan Ikrar Pemuda Dalam Rangka Memperingati Hari HIV dan AIDS

KEGIATAN NEXT TIME

HARI KELUARGA NASIONAL XXVI

Senin, 02 Desember 2019

MARI BERSAMA HAPUS STIGMA TERHADAP ODHA

ODHA ADALAH SAUDARA KITA
         
          Setiap tanggal 1 Desember diperingati Hari HIV AIDS Sedunia / World Aids Day. Dilansir dari www.kompas.com, tujuan meperingati Aids Sedunia adalah untuk menumbuhkan kesadaran yang lebih besar tentang dampak AIDS terhadap keluarga, bukan hanya kelompok-kelompok yang selama distigmatisasi.
           
Berdasarkan data UNAIDS, pada akhir 2018, sebanyak 37,9 juta orang di dunia hidup dengan HIV dan 770.000 orang meninggal karena AIDS  (www.kompas.com).



            Maka kami dari Insan GenRe Kabupaten Jember membuat Twiwbon ini bersama sama untuk mengkampanyekan dampak HIV Aids serta menghilangkan stigma terhadap orang dengan HIV AIDS (ODHA). Pada twiwbon ini kami membuat tema “AKU BERSAMAMU”.

            Ayo upload fotomu dengan twiwbon ini, serta gunakan caption ajakan agar menjauhi HIV AIDS dan menghapus stigma masyarakat terhadap ODHA, serta jangan lupa taggar ke @GenRe_Jatim, @GenRe_Indonesia, @Insan.GenRe.Jember, dan hastag ke #WorldAidsDay #RangkulPenderitaJauhiPenyakitnya #AkuBersamamu #KamuPastiBisa




  

LINK TWIWBON
 

         


Sabtu, 20 Juli 2019

KOPETISI VLOG KAMPUNG KB 2019

KOMPETISI VLOG KAMPUNG KB 2019


Dalam rangka meningkatkan sosialisasi dan promosi program KB, khususnya untuk pengembangan kambung KB sebagai sebuah wadah pemberdayaan masyarakat melalui berbagai macam program yang mengarah pada upaya merubah sikap, prilaku, dan cara berfikir (mindset) masyarakat kearah yang lebih baik, maka dibutuhkan upaya sosialisasi dan promosi yang berbeda menyesuaikan era industri 4.0 dengan mengimplementasikannya melalui teknologi seperti Vlog (Video-Blogging) yang saat ini menjadi tren di kalangan masyarakat

KETENTUAN PESERTA
  • Remaja berusia maks 25 tahun (belum menikah) dibuktikan oleh foto/scan identitas peserta 
  • Lomba tidak di pungut biaya
  • Peserta individu / kelompok (maks 3 orang)
  • Berdomisili bakorwil 5 Jawa Timur (Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Situbondo, Lumajang, Probolinggo Kota, Probolinggo Kabupaten)
  • Setiap peserta maks mengirimkan 1 karya
  • Mengisi formulir online
KETENTUAN VIDIO
  • Durasi maksimal 7 menit
  • Memasukan informasi tentang " Potensi kampung KB, SDA dan SDM kampung KB "
  • Tidak mengandung SARA
  • Karya yang dikirim bersifat orisinalitas (dibuktikan oleh scan/foto surat pernyataan)
  • Karya di upload di youtube
KETENTUAN PENGIRIMAN
  • Karya dikirim sebelum tanggal 10 Agustus 2019
  • Karya di upload di youtube masing masing dengan format Nama karya_asal_nama kampung KB dan diberi hastag #lombavlogkampungkb2019
DIPERPANJANG DARI TGL 27 AGUSTUS 2019 DAN TERAKHIR PENGIRIMAN KIRIM KE TANGGAL 26 SEPTEMBER 2019 PUKUL 23.59

INFO LEBIH LANJUT HUBUNGI :
Bintang Mega      :0812 1723 0992
Heni Nur Azizah :0831 1708 9467



Kamis, 11 Juli 2019

PAPER GENRE - WUJUDKAN PIK - R YANG AKTIF DAN PRODUKTIF DENGAN MACATU GENRE

WUJUDKAN PIK-R YANG AKTF DAN PRODUKTIF DENGAN MACATU GENRE 
OLEH BAGUS LIYANTO LEONARDO - DUTA GENRE KAB. JEMBER

BAB 1. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masa remaja adalah masa keemasan dimana pada masa ini, remaja sangat aktif mencari identitas diri, masa giat – giatnya melakukan kegiatan yang dapat membentuk karakternya. Namun disisi lain, masa ini juga merupakan masa yan amat mengkhawatirkan karena remaja pada usia ini banyak sekali gangguan, pilihan, dan segala tantangan yang konsekuensinya akan di dapat di setiap langkah yang akan mereka ambil.
Menurut WHO, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10 – 19 tahun, menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10 – 18 tahun dan menurut BKKBN rentang usia remaja adalah 10 – 24 tahun an belum menikah.
Di Jember masalah kenakalan remaja dirasa telah mencapai tingkat yang cukup meresahkan bagi masyarakat. Angka kriminalitas di Kabupaten Jember tahun 2018 sejumlah 1.810 kasus. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 2017 sejumlah 1.761 kasus. Melihat keadaan yang semakin mengkhawatirkan maka dari itu dibutuhkanlah suatu wadah yang dapat menampung dan memberdayakan para remaja agar menjadi  remaja yang kreatif, berdaya positif serta mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik yaitu PIK – R (pusat informasi dan konseling remaja.
Pusat informasi konseling remaja adalah suatu wadah kegiatan program khususnya program Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja (PKBR) yang dikelola dari oleh dan untuk remaja guna memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang kesehatan reproduksi (kespro) serta perencanaan kehidupan berkeluarga atau pelayanan konseling tentang remaja. Salah satu PIK-R jalur pendidikan yang ada di Jember adalah Pik-R Jendela yang ada di SMA 4 Jember.


BAB 2. SITUASI DAN KONDISI SAAT INI
PIK-R  Jendela adalah PIK-R yang berbasis pendidikan dan bertempat di SMAN 4 Jember. Awal mula berdirinya PIK-R Jendela di SMAN 4 Jember disebabkan oleh beberapa permasalahan yang terjadi. Berdasarkan observasi anggota PIK-R ialah terdapat permasalahan kenakalan remaja seperti minum minuman keras di sekolah,merokok di sekolah,melakukan perbuatan mesum di sekolah,hingga bahkan terdapat siswi SMAN 4 Jember yang terbukti hamil. Bahkan ada stigma “ngga rokokan nga lanang”. Di lingkungan SMAN 4 Jember terdapat beberapa sekelompok remaja yang merokok dan suka untuk mengajak siswa yang lain untuk merokok. Berbagai permasalahan yang tersebut tentu sangat meresahkan warga sekolah dan mempermalukan nama sekolah. Maka dari itu, berdasarkan program DP3AKB pada tahun 2010  dibentuklah PIK-R yang pada saat itu masih bergabung dengan ekstrakulikuler PMR. Setelah berjalan selama 2 tahun akhirnya PIK-R dapat berjalan sendiri sebagai suatu organisasi. Dimulai dari sinilah tugas PIK-R untuk menekan kenakalan remaja yang terjadi di SMAN 4 Jember. Upaya penyebaran virus genre telah dilakukan melalui kegiatan pelatihan pendidik sebaya,konselor sebaya dan sosialisasi tentang genre kepada siswa SMAN 4 Jember. Hadirnya PIK-R di SMAN 4 Jember telah cukup menekan kenakalan remaja yang terjadi pada beberapa tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya PIK-R telah dapat memberikan dampak yang baik terhadap lingkungan sekolah.
Pada saat sekarang ini,teknologi semakin canggih,media sosial semakin memudahkan remaja dalam mengakses informasi dan aplikasi yang diinginkan. Namun, hal ini menjadi masalah yang baru  dan terdapat beberapa kasus permasalahan yang terjadi. Beberapa kasus pelecehan seksual berawal dari aplikasi sosial media. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan anggota PIK-R,ditemukan beberapa pasangan siswa yang melakukan aktivitas seksual melalui sosial media. Hal ini merupakan bentuk dari pemanfaatan kecanggihan teknologi dari sosial media yang tidak dibenarkan.
Pemaparan di atas adalah masalah yang terjadi pada saat ini. Telah menjadi  tugas bagi kita semua untuk memikirkan rencana dan strategi pengembangan PIK-R agar dapat berjalan sesuai dengan fungsinya secara optimal dan dapat memberikan perubahan yang baik. \



BAB 3. PEMBAHASAN
PIK-R JENDELA merupakan PIK-R jalur pendidikan yang berada dibawah naungan SMAN 4 Jember. PIK-R JENDELA memiliki beberapa program kerja yang sudah berjalan diantaranya : bakti sosial dan buka bersama yayasan yatim piatu,bakti sosial membantu korban bencana,pelatihan diklat PS,pelatihan lifeskill,sosialisasi program genre kepada anggota PIK-R JENDELA.
Bakti sosial dan buka puasa bersama yayasan yatim piatu. Kegiatan tersebut juga diselingi dengan pengisisan materi tentang TRIAD KRR.
Bakti sosial dalam rangka membantu korban bencana banjir di daerah Kencong,Kabupaten Jember. 




Diklat pendidik sebaya merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan setelah penerimaan anggota baru. Diklat PS merupakan kegiatan yang wajib hukumnya untuk diikuti oleh anggota baru PIK-R.





Pelatihan lifeskill yang dilakukan Insan Genre Kab. Jember kepada anggota PIK-R JENDELA. Pelatihan lifeskill tersebut berupa alat pencetak pin yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh anggota PIK-R JENDELA.



Sosialisasi program GenRe kepada anggota PIK-R JENDELA dalam rangka untuk meningkatkan kualitas PIK-R JENDELA seagai COE PIK-R di Kabupaten Jember.




Dalam  menyusun dan menyiapkan strategi pengembangan PIK-R,PIK-R Jendela SMAN 4 Jember memiliki  ”MACATU GENRE”. “MACATU  GENRE” adalah rencana atau strategi yang dimiliki PIK-R JENDELA dalam rangka menekan kenakalan remaja yang terjadi dan untuk mengembangkan PIK-R JENDELA menjadi lebih aktif dan produktif.
1.      Mengadakan kegiatan  “SEPIK BAHAN” (Sebarkan PIK-R, Bawa Perubahan)
1. Sasaran kegiatan ini adalah sekolah sekolah yang belum ada organisasi PIK-R.
Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah supaya sekolah kunjungan dapat mengetahui tentang genre dan dapat membentuk organisasi PIK-R. Indikator keberhasilan dari kegiatan ini ketika sekolah kunjungan dapat memaknai tentang genre dan langsung ada inisiatif untuk membentuk organisasi PIK-R serta siap untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkan remaja yang bebas dari bahaya Triad KRR.
2.                          2. Mengadakan kegiatan  rutin “J-PRO” (Jendela Production)
Pada kegiatan ini PIK-R Jendela SMAN 4 Jember memanfaatkan fasilitas alat pencetak pin yang diberikan oleh BKKBN kepada PIK-R Jendela SMAN 4 Jember.  Anggota PIK-R menuangkan ide dan kreasinya melalui alat pencetak pin. Produk yang dihasilkan dari alat ini nantinya akan dijual dan bernilai ekonomi.
3.                   3. Mengadakan kegiatan “SADAR GENRE”
“SADAR GENRE” adalah kegiatan berupa pembinaan,evaluasi,dan monitoring. Hal ini tidak boleh dilewatkan apalagi sampai dilupakan. Karena akan berdampak pada ketidakaktifannPIK-R. Pembinaan,monitoring,dan evaluasi yang dilakukan secara berjenjang akan menciptakan PIK-R yang aktif dan dapat menyebarkan virus-virus genre dengan sangat baik.
1.                         4.  Mengadakan kegiatan “GENRE ON SHOW”
Di zaman millenial ini,sangat penting untuk kita mengikuti perkembangan teknologi informasi yang ada,contohnya sosial media. Hampir seluruh dari remaja  yang ada pasti aktif dalam bersosial media. Kita harus mampu melihat hal ini sebagai peluang dan kesempatan. Dengan sosial media yang semakin banyak menarik minat para remaja,kita dapat menyebarkan virus-virus genre melalui sosial media. Lomba-lomba fotografi dan videografi tentang genre dapat dilakukan di sosial media.  Selain sosial media,penyebaran virus-virus genre juga dapat dilakukan melalui siaran radio. Jadi, terdapatnya wadah dan media bagi remaja untuk berkreasi dalam  penyebaran virus genre akan menjadi nilai positif dalam menyukseskan program genre.
2.                  5. Melaksanakan kegiatan “EDUCATION TRIP”
“EDUCATION TRIP” adalah kegiatan yang belajar genre sambil bersenang-senang.         Kegiatan tersebut dihadiri PIK-R yang ada di Kabupaten Jember. Dalam kegiatan tersebut diisi berbagai lomba-lomba yang sederhana.Tujuannya adalah meningkatkan kekompakan sesama anggota PIK-R masing-masing. Dalam kegiatan tersebut juga antar organisasi PIK-R pasti akan saling berinteraksi. Adanya interaksi dari antar PIK-R yang berbeda akan menambah jaringan serta wawasan antar peserta tentang kondisi PIK-R yang ada 


BAB 4. KESIMPULAN
Negara ini dlimpahi dengan jumlah remaja yang sangat banyak. Jika remajanya memiliki kualitas yang baik tentu akan membawa negara ini semakin maju dan sejahtera. Namun,jika kualitas remajanya rendah maka akan menjadi bahaya yang sangat besar bagi negara ini.
Dengan organisasi PIK-R diharapkan dapat menampung aspirasi remaja,mewadahi remaja,dan mengantarkan remaja yang biasa menjadi remaja yang terencana.
PIK-R yang dapat beroperasi secara optimal dan maksimal akan dapat menghasilkan remaja yang berkualitas,remaja yang dapat merencanakan hidupnya dengan baik,dan remaja yang sehat,cerdas,ceria. 


DAFTAR PUSTAKA
http://www.genreindonesia.com/pusat-informasi-konseling/ (diakses pada tanggal 9 Juni 2019)  
Polres Jember. 2017. Angka Kriminalitas di Jember Naik Selama 2018 Dibanding 2017, Kasus Ini Paling Mendominasi. https://surabaya.tribunnews.com/2018/12/31/angka-kriminalitas-di-jember-naik-selama-2018-dibanding-2017-kasus-ini-paling-mendominasi(diakses pada tanggal 9 Juni 2019)





PROFIL PENULIS
Nama Lengkap   : Bagus Liyanto Leonardo
Nama Panggilan : Leo
Asal                    : PIK - R Jendela SMA Negeri 4 Jember
TTL                    : Jember, 11 Agustus 2001
Alamat               : Jalan Gajahmada, Kaliwates - Jember
Motto Hidup      : You're Your Only Limit

Minggu, 19 Mei 2019

IDENTITAS INSAN GENRE JEMBER


Insan Genre (Ikatan Satuan Generasi Berencana) Jember adalah wadah koordinasi terpadu PIK-Remaja/Mahasiswa, Saka Kencana, Duta Mahasiswa

GenRe, orang-orang yang peduli terhadap permasalahan remaja serta BKR (Bina Keluarga Berencana) yang berada dibawah naungan Dinas Pemberdayaaaan

Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DPPAKB) Kabupaten Jember. Insan Genre Jember memiliki berbagai lambang tersendiri sebagai ciri khas dari Insan Genre Jember layaknya insan genre kabupaten/kota lainnya.
Lambang tersebut memiliki makna sebagai berikut :
1. Daun Tembakau          : Lambang daun menunjukan arti identitas Insan GenRe yang             berada di Kabupaten Jember sesuai dengan lambing pemerintah           Kabupaten Jember
2. 3 Daun                         : Jumlah 3 ini menunjukan arti ada 3 permasalahan remaja di   Kabupaten Jember yang menjadi fokus Insan GenRe Jember
3. Logo GenRe                : Logo GenRe yang terdapat di posisi tengah menunjukan       bahwa Insan GenRe Jember juga bertugas dalam    mensosialisasikan Program GenRe     agar mewujudkan tegar           remaja di Kabupaten Jember
4. Pita Berwana               : Pita berwarna biru menunjukan warna identic biru BKKBN
5. Tulisan Insan GenRe   : Identitas Insan GenRe Jember

KEBIJAKAN GENRE


Penduduk merupakan aset terpenting suatu bangsa. Persoalan kependudukan harus dilihat dari segi kuantitas dan kualitasnya karena dapat menentukan kemajuan suatu bangsa. Di Indonesia, secara kuantitas penduduk Indonesia berjumlah 237,6 juta pada tahun 2010 (BPS, 2010) dan saat ini (2015) jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 255 juta jiwa (Bappenas, BPS, UNFPA, 2013). Jumlah yang besar ini menempatkan negara Indonesia pada urutan ke 4 (empat) penduduk terbesar di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk besar merupakan aset yang utama seandainya diimbangi dengan kualitas yang baik. Namun pada kenyataannya, kualitas SDM yang dinilai melalui “Human Development Index (HDI)” atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) oleh UNDP menempatkan Indonesia pada urutan 108 dari 189 negara (2013). Tantangan terbesar dalam upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia dilihat dari IPM tersebut adalah masalah kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan penduduk. Kesemuanya ini berkaitan dengan kuantitas serta struktur penduduk (komposisi penduduk) Indonesia. Saat ini komposisi penduduk Indonesia masih menunjukkan kondisi yang kurang menguntungkan yang ditandai dengan munculnya gejala Triple Burden yaitu situasi dimana jumlah balita, anak, remaja dan lansia yang semakin besar. Berdasarkan proyeksi penduduk, jumlah penduduk Indonesia sampai dengan tahun 2019 sebesar 268,1 juta, apabila laju pertumbuhan penduduk tetap di angka 1,49 persen (SP 2010).

Terkait remaja, proyeksi penduduk pada tahun 2015 menunjukkan bahwa jumlah remaja (usia 10-24 tahun) Indonesia mencapai lebih dari 66,0 juta. Artinya, 1 dari setiap 4 orang penduduk Indonesia adalah remaja. Jumlah yang sangat besar tersebut adalah potensi yang memerlukan pengelolaan yang terencana, sistematis dan terstruktur agar dapat dimanfaatkan menjadi modal pembangunan ke depan. Membangun dan membina remaja tidak hanya menyiapkan masa depannya saja, akan tetapi juga menjaga mereka agar terhindar
dari risiko dan permasalahan yang dihadapi mereka saat ini. Risiko dan permasalahan yang dihadapi diantaranya :
1.             Perilaku Seks pada Remaja

Hasil penelitian menunjukkan masih banyak remaja yang aktif secara seksual di luar nikah. Berdasarkan data SKRRI 2003 dan 2007, terdapat kecenderungan kenaikan proporsi remaja usia 15-24 tahun yang aktif secara seksual terutama pada kalangan laki-laki yaitu 1% pada perempuan dan 5% pada laki-laki tahun 2003, menjadi 1%pada perempuandan 6% pada laki-laki tahun 2007 (Utomo 2013). Menurut data SDKI 2012, angka tersebut mengalami kenaikan menjadi 8,3% untuk laki-laki sedangkan untuk wanita menunjukkan kecenderungan yang stabil.

2.             Kehamilan dan Kelahiran pada Remaja

Kelahiran  pada  remaja  di  Indonesia  dapat  dilihat  berdasarkan angka  Age

Specific Fertility Rate (ASFR) yaitu angka yang menunjukkan jumlah kelahiran per 1000 wanita pada umur tertentu. Berdasarkan SDKI 2012, di Indonesia Age Specific Fertility Rate (ASFR untuk kelompok umur 15- 19) secara umum turun tidak signifikan dari 51 ke 48 per 1000 kelahiran (SDKI 2007 dan SDKI 2012), masih jauh dari angka yang diharapkan pada Rencana Strategis BKKBN yakni 38 per 1000 kelahiran (pada tahun 2019). Hal ini berarti, menunjukkan masih tingginya kejadian kelahiran pada remaja di Indonesia.

3.             Perkawinan pada Remaja

Perkawinan di kalangan remaja masih terjadi, yaitu proporsi remaja usia 15-

19 tahun yang sudah melahirkan dan hamil anak pertama naik dari 8,5% (SDKI 2007) menjadi 9,5% (SDKI 2012). Hal tersebut sejalan dengan data terbaru dari Annual Review Unicef Tahun 2014, menunjukkan bahwa satu dari empat perempuan di Indonesia menikah sebelum berumur 18 tahun. Kondisi ini diperkirakan sebagai akibat pernikahan dini yang diatur orangtua dan akibat pergaulan seks bebas. Akibatnya kemungkinan tingginya kematian ibu dan anak, peluang terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT, tingginya drop out sekolah dan peluan mendapatkan pekerjaan layak semangkin rendah. Secara gelobal, Indonesia termasuk Negara dengan presentasi pernikahan usia muda
masih tinggi di dunia yaitu ranking 37, tertinggi kedua di asean setelah kamboja. Pada tahun 2010, terdapat 158 Negara dengan usia legal minimum menikah adalah 18 tahun keatas, dan Indonesia masih dibawah dari itu yaitu 16 tahun.

4.             HIV dan AIDS

Permasalahan lain yang cukup memperihatinkan pada remaja adalah banyaknya remaja yang terpapar HIV/AIDS dan Narkoba. Data kemenkes menunjukkan kasus AIDS secara komulatif dari tahun 1987 s/d September 2014 sebesar 55.799 Kasus.2,9% diantaranya kelompok usia 20-29 Tahun, dan 3,1% diantaranya kelompok usia 15-19 tahun (kemenkes RI,2014).
5.             Napza

Data dari BNN tahun 2013 menunjukkan bahwa 22% dari 4 juta penduduk

indonesia penyalahguna narkoba atau sekitar 880 ribu penyalahguna napza adalah pelajar dan remaja/mahasiswa.

Berdasarkan data dan kondisi diatas, menunjukkan betapa besarnya jumlah remaja Indonesia yang akan terganggu kesempatannya untuk melanjutkan sekolah, memasuki dunia kerja, memulai keluarga dan menjadi anggota masyarakat secara baik. Sejumlah itu pula remaja yang tidak siap untuk melanjutkan tugas dan peran sebagai generasi penerus bangsa yang diharapkan dan mengantar Negara Indonesia menjadi Negara berdaulat dan bermartabat. Dengan meningkatnya jumlah remaja yang bermasalah akan menggangu pencapaian tugas-tugas perlembangan remaja. Tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan remaja tersebut adalah sebagai berikut :

a.              Tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan remaja secara individual, yaitu pertumbuhan fisik, perkembangan mental, emosional dan spritual.

b.             Tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan remaja secara sosial. Oleh Bank Dunia (2007), masa transisi kehidupan remaja dibagi menjadi 5 Transisi Kehidupan (Youth Five Transitions), antara lain :

1)   Melanjutkan sekolah (continue  learning)

2)   Mencari pekerjaan (start working)

3)   Memulai kehidupan berkeluarga  (form families)

4)   Menjadi anggota masyarakat (exercise citizenship)

                            5) Mempraktikkan hidup sehat (practice healthy life)

Untuk membantu dan membina remaja menyiapkan masa depannya terutama dalam perencanaan kehidupan berkeluarga serta merespon permasalahan-permasalahan yang terjadi pada remaja, BKKBN sesuai dengan amanat UU No. 52 Tahun 2009 mengembangkan program Program Generasi Berencana yang disingkat menjadi GenRe. Program GenRe adalah program yang dikembangkan dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja sehingga mereka mampu melangsungkan jenjang pendidikan secara terencana; berkarir dalam pekerjaaan secara terencana; serta menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksi. Program GenRe ditujukan kepada remaja/mahasiswa melalui wadah PIK Remaja/Mahasiswa (PIK R/M) dan keluarga yang memiliki remaja melalui wadah Bina Keluarga Remaja (BKR).